Mata pencaharian masyarakat Jawa kuno
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menjalankan ekonomi wanua (desa) & Kerajaan, setidaknya masyarakat Jawa kuno memiliki 3 profesi mata pencaharian :
-Berburu
-Menangkap ikan (nelayan)
-Bertani
Dari keterangan beberapa prasasti diketahui profesi tersebut ada yg dikenakan pajak :
Prasasti Sangguran 850 Saka (928 M), baris ke 22-23 :
“runggi, payung wlu mo ( )yi, a( )jang, magawai kisī manganamanam, manawang, mana(ng)kěb, mamisaṇḍung manuk, makalakalā”
” u ( ) u tri ( ) n drawya hajinya, saduman umarā i bhaṭāra, sadūman umarā i sang makmitan sīma, sadūman maparaha i sang mangilala drawya haji”
( keranjang, payung wlu, mengerjakan upih (wadah tahan air dari kelopak daun sejenis palem), mencelup, membuat kisi, menangkap ikan dengan tawang, menangkap ikan dengan tangkeb, menjerat burung, (dan) menjerat (binatang)”
(Semua pungutan itu dibagi tiga, sebagian diserahkan untuk Bhatara, sebagian untuk penjaga sima, (dan) sebagian (lagi) untuk para petugas)
Prasasti Kamalagi 743 Saka (821 M), baris ke 5-9 :
“wuga pu mangnĕp manusuk sīma swh, khipihak lawn kbuan riŋ kamalagi la wan pomahan nayaka rikana pamanangap manurat saŋ anawrjjita jñāaneśwara snkari
dharmmcīnta sāksī hyaŋ guru mangalī saŋ śīwa”
( Wuga bernama Pu Mahneb meresmikan status sima (swatantra perdikan) sawah, di Pihak dan sebuah kebun di Kamalagi dan, suatu tempat tinggal bagi Nayaka. Susunan surat keputusan itu ditulis oleh Sang Anawarjjita Jnaheiwara dan Sang Kari Dharmmacinta. Adapun saksi-saksinya ialah: Hyang Guru Mahgali bernama Sang Siwa)
irsb69

